Tampilkan postingan dengan label 3.product. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 3.product. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Oktober 2010

keunggulan produk

Keunggulan Produk

  1. Bahan Baku Berkualitas
    Bahan baku mesin yang kami buat disesuaikan dengan permintaan konsumen. Bisa dari bahan Stainless Steel atau dari bahan Mild Steel. Kami juga sangat selektif dalam memilih pemasok bahan baku untuk setiap produk yang akan kami hasilkan.
  2. Tahan Lama dan Awet
    Bahan baku yang berkualitas akan menghasilkan mesin yang bermutu tinggi dan tahan lama. Kami juga merancang setiap mesin agar mudah digunakan dan murah perawatannya.
  3. Bergaransi
    Semua produk kami bergaransi mulai 1 tahun hingga 2 tahun.
  4. Diskon Khusus
    Untuk pembelian dalam jumlah tertentu kami berikan diskon khusus yang sangat menarik dan bisa anda bandingkan dengan yang lain
  5. Harga Murah
    Menghasilkan mesin yang murah dan berkualitas adalah tujuan kami. Kami sadar anda membutuhkan mesin dengan kualitas yang terjamin namun memiliki harga yang terjangkau.
  6. Layanan Purna Jual
    Kami juga memberikan layanan purna jual seperti pelatihan pengoperasian dan perawatan mesin.

produk impor tak selalu mahal

Hanya dengan Rp 20 ribu, Anda bisa membawa pulang tiga kaos trendi. Inilah salah satu keunggulan kawasan perdagangan di Gede Bage, Bandung.  
 
Banyak orang menganggap Bandung surga untuk berbelanja. Ada benarnya memang. Pasalnya, cukup banyak pilihan lokasi berbelanja di Kota Kembang ini. Masing-masing juga punya ciri khas dan segmen pasar tersendiri. Salah satunya adalah pusat penjualan barang impor Cimoll Centre, di kawasan Gede Bage, Bandung Timur.

Para pemburu barang-barang impor berkualitas berharga miring, memang tak asing dengan kawasan Gede Bage ini. Apalagi, barang yang ditawarkan cukup bervariasi, mulai dari kaos, hem, celana panjang, celana pendek, pakaian dalam, jaket kulit, jaket parasut, jas, bed cover, karpet, permadani, tas, topi, sepatu dan lainnya.

Semuanya diimpor dari mancanegara seperti, Korea, Jepang, Cina, Thailand, Hongkong, Italia, Amerika Serikat, Australia, India dan Bangladesh.      

Sebenarnya, Gede Bage bukan lokasi pertama tempat mangkalnya para pedagang barang-barang impor di kota yang juga disebut sebagai Paris van Java ini. Kelompok pedagang ini mulai muncul dan menjual produk impor di Pasar Baru, pada tahun 1996. Saat itu, pedagang yang aktif berjualan sekitar 50-100 orang.

Antara 1997-1999 para pedagang berpindah lokasi ke Jl Cibadak. Selama berjualan di kawasan inilah, mulai dikenal istilah “Cimoll,” singkatan dari Cibadak Mall. Saat itu, pedagang yang terlibat mencapai 1200 orang. Antara 1999–2001, jumlah pedagang yang terlibat meningkat menjadi 1500 orang.

Agar bisa menampung jumlah pedagang yang terus meningkat ini, lokasinya pindah ke kawasan Kebon Kelapa.   

Dengan alasan yang sama, karena jumlah pedagang terus membengkak mencapai 2000 orang, lokasi usaha kembali pindah ke kawasan Tegal Lega. Di kawasan ini aktivitas perdagangan berlangsung antara 2001–2004.

Sejak Agustus 2004 sampai sekarang, para pedagang ini menempati lokasi baru di kawasan Gede Bage, Bandung Timur. Saat ini, pedagang yang terlibat mencapai 3000 hingga 3500 orang.

Meski pertumbuhan pusat perbelanjaan modern dan Factory Outlet (FO) dalam beberapa tahun terakhir semarak, keberadaan pedagang barang impor di Gede Bage ini tak juga lekang diterjang zaman.

Di akhir pekan, pembeli di Cimoll Centre selalu ramai, seperti halnya pengunjung di FO yang tersebar di kawasan Ciampelas.

Mamar Rhamdani (24), seorang penjual celana panjang menuturkan, berjualan barang seperti ini memang potensial memperoleh keuntungan besar, tergantung dari barang yang dibelinya. Jika dalam satu bal lebih banyak barang yang kualitasnya baik, keuntungan yang diraih cukup besar.

Tapi, jika dalam satu bal banyak yang rusak, ia menyiasati dengan beberapa cara agar bisa menutup modal.

Menurut Rhamdani, untuk memperoleh keuntungan optimal, pedagang ini kawasan ini selalu menyortir barang dagangannya sebelum dijual. Contohnya, dalam satu bal biasanya ada 250-300 potong celana. Untuk yang berbahan katun dibeli seharga Rp 1,2 juta. Yang dicampur celana jeans Rp 1,6 juta.

”Jika yang bagus ada 150 potong, harga jualnya hanya Rp 15-20 ribu per potong. Yang cacat dijual antara Rp 5.000-10.000 per potong. Itu pun jika laku. Jika tak laku itu risiko,” paparnya.

Keuntungan yang diperoleh pun cukup besar. Rhamdani mengaku, per potong bisa menghasilkan utung antara Rp 5-10 ribu. Tak heran, dalam sebulan ia bisa meraih omzet antara Rp 2,5–5 juta.

”Omzet penjualan cukup besar biasanya terjadi pada Sabtu, Ahad dan hari libur,” tutur pria tinggal di Jl Pagarsih, Bandung ini.
    
Agus Mardial (45), pria asal Bukit Tinggi yang berjualan jas bersama sang istri juga menuturkan hal senada. Menurutnya, satu bal jas stelan komplit harga belinya sekitar Rp 3-4 juta. Di dalamnya terdapat sekitar 80 setel. Satu bal untuk jas saja dibeli seharga Rp 2-2,5 juta dengan isi sekitar 140 potong. Dari jumlah itu, rata-rata 15-20 persennya rusak.

Agus menjual setelan jas lengkap (atas bawah) antara Rp 150–200 ribu per stel. Untuk jasnya saja seharga Rp 100-125 ribu per jas. Sedangkan yang cacat, untuk stelan dijual antara Rp 50-75 ribu per stelan dan jasnya Rp 25-40 ribu per jas. Untuk celana cacat dijual Rp 10–20 ribu per celana.

”Omzet dalam sebulan  antara Rp 30-60 juta, keuntungannya sekitar 10–20  persen,” jelas salah satu pedagang yang telah berdagang sejak di kawasan Pasar Baru ini.

Sementara itu, Deni Sugandi (42) yang berjualan topi mengatakan, modal membeli satu bal topi Rp 1,6 juta. Di dalamnya beriisi 350 potong topi, mulai dari topi bayi, anak, remaja sampai dewasa. Ia menjual dengan harga bervariasi. Untuk topi bayi dijual Rp 10 ribu per tiga potong. Topi anak  Rp 10-20 ribu per topi. Topi remaja paling murah Rp 20 ribu per topi.

Yang paling tinggi adalah topi laken, mencapai Rp 150 ribu per topi. ”Omzet per bulan sekitar Rp 5-6 juta,” ujar mantan karyawan sebuah perusahaan percetakan ini.
  

Selain menguntungkan pedagang, keberadaan pusat perdagangan produk impor ini juga menguntungkan para pembeli, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Riksa Esha (16), pelajar SMKN 6 Kota Bandung saat berbelanja menuturkan, ia belanja di kawasan ini karena harganya miring dan terjangkau kantongnya.

”Hanya dengan Rp 20 ribu, saya bisa membawa kaos trendi tiga potong. Jika saya beli di FO, mana dapat Rp 20 ribu,” tandasnya.

Didin (40), pembeli lain yang ditemui Sabili juga mengatakan hal serupa. Bahkan, ia rutin berbelanja di kawasan ini seminggu sekali untuk dijual lagi.

“Begini Mas, orang seperti saya uangnya nggak banyak. Kalau belanja di sini lumayan dapat barang bagus. Kalau ada teman yang suka, biasanya saya jual lagi. Untungnya bisa dua sampai tiga kali lipat dari harga pembelian,” jelasnya bersemangat.

Meski begitu, Didin berpesan pada pembeli yang baru pertama kali berbelanja di kawasan ini. Agar memperoleh barang berkualitas dengan harga murah, pembeli harus teliti saat membeli, sabar dalam menawar dan tidak terburu-buru dalam memilih produk.

”Asal sabar dalam memilih dan menawar, siapa pun yang belanja akan mendapatkan barang yang diinginkan dan tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam,” sarannya.

Sayangnya, para pedagang yang ditemui Sabili umumnya masih mengeluhkan beberapa hal.

Pertama, susahnya pasokan barang untuk pedagang. Dalam sebulan hanya dikirim satu kali, padahal counter sering kekurangan stok barang.

Kedua, pedagang masih harus menanggung cost cukup besar untuk membayar kontrak lapak Rp 300 ribu per bulan dan iuran tambahan sebesar Rp 30 ribu per bulan.

Ketiga, lahan parkir yang tersedia terbatas sehingga saat akhir pekan atau hari liburan kendaraan pembeli tak tertampung.

Keempat, kawasan Gede Bage jauh dari pusat kota sehingga warga di pusat kota enggan belanja ke kawasan ini. Yang lebih banyak berbelanja justru pembeli dari luar kota.

Kelima, permodalan para pedagang umumnya pas-pasan, sehingga masih memerlukan suntikan modal dari perbankan setempat atau pemerintah daerah.

Tapi, bagi pedagang yang sudah terjun dalam bisnis ini tak patah arang menghadapinya. Bagi mereka, yang penting adalah berusaha untuk bisa bertahan dalam kondisi apa pun.

Mamar, Agus dan Deni hanya potret kecil dari pedagang produk impor yang berusaha keras merengkuh keuntungan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, keluarga dan masyarakat di sekitarnya.

(Sabili edisi 25/XIV/Dwi Hardianto Laporan: Deffy Ruspiyandy (Bandung)

ekspor produk indonesia ke mesir

Potensi Ekpansi Produk Ekspor Indonesia ke Mesir PDF Print
14-10-2009
Duta Besar RI untuk Mesir, A.M. Fachir terus mendorong pengusaha Indonesia untuk melakukan expansi produk-produk ekspornya ke Mesir. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui partisipasi dalam 12th Trade Fair Of OIC Member Countries di Kairo, Mesir, pada 11 - 16 Oktober 2009. Dalam kunjungannya ke Pavilion Indonesia (12/10) Dubes RI menyampaikan kepada para pengusaha Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Mesir yang ditargetkan akan meningkat di tahun 2009 hingga mencapai 5,5% serta intensifnya pengembangan sektor perumahan/ apartemen, pasar Mesir merupakan potensi bagi berbagai produk ekspor Indonesia, seperti meubel, tekstil dan produk tekstil, alas kaki dan peralatan rumah tangga.
Sebelumnya, pada 11 Oktober 2009, Duta Besar A.M. Fachir dalam jamuan makan malam untuk para pengusaha dari tujuh perusahaan Indonesia yang berpartisipasi pada Pameran Dagang OIC tersebut dan para pengusaha dari 35 perusahaan Mesir yang akan hadir pada Trade Expo Indonesia ke-24, tanggal 28 Oktober – 1 November 2009 di Jakarta menyampaikan bahwa Indonesia dan Mesir memiliki potensi kerjasama di bidang perdagangan yang besar. Sebelum tahun 2007, peningkatan nilai perdagangan hanya sekitar USD 100 juta pertahun, kemudian pada tahun 2008 nilai perdagangan kedua negara dapat ditingkatkan sebesar USD 500 juta dari nilai perdagangan USD 600 juta (2007) menjadi USD 1,1 miliar (2008), dengan surplus untuk Indonesia sebesar USD 580 juta. Karena itu, Dubes A.M. Fachir berharap para pengusaha kedua negara yang hadir dapat mengeksplorasi peluang bisnis bersama. Secara khusus, rencana kunjungan para pengusaha Mesir ke Indonesia menjadi peluang berharga untuk melakukan business matching.
Dalam kesempatan pertemuan itu, Ketua Egyptian-Indonesian Business Council, Mohammad Baraka, pemilik agen di Mesir dari perusahaan Indonesia yang memproduksi ban, glassware dan sebagai investor produk meubel di tanah air mengemukakan bahwa berbisnis dengan Indonesia akan sangat menguntungkan. Selain itu, masih banyak peluang kerjasama bagi pengusaha Mesir dan Indonesia yang dapat dikembangkan. Mohammad Baraka dalam hal ini memuji kualitas produk Indonesia dan menyampaikan kepuasannya dalam menjalin usaha dengan mitranya dari Indonesia. Dalam kaitan upaya meningkatkan kerjasama pengusaha kedua negara, Mohammad Baraka menyampaikan penghargaannya atas peran dan fasilitasi KBRI Kairo khususnya Atase Perdagangan dalam mendorong dan memberi perhatian kepada para pengusaha Mesir yang ingin mengembangkan kerjasama dengan pengusaha Indonesia. Karena itu, dirinya bersama para pengusaha Mesir tersebut di atas akan hadir pada Trade Expo Indonesia ke-24 mendatang. (Sumber: KBRI Kairo)

Macam-macam produk

1. Google Trends
Ini yang barusan saya bilang “Google Trends” gunanya untuk mencari keyword yang lagi ngetren di beberape negara terutama Amrik sebagai lumbung dollar para publisher adsense. Dengan produk google yang satu ini kita bisa membuat blog, situs atau postingan yang lagi hot sehingga bisa menarik pengunjung dari Amerika.

2. Google Alerts
Memberitahu kita jika ada seseorang yang melink situs/blog. Produk ini sangat baik untuk melacak aktifitas online serta memonitor bisnis dan produk.

3. Google Checkout
Ini adalah paypalnya google. Jadi kita bisa transaksi di dunia maya dengan produk ini. Hal ini lebih aman karena kita tidak perlu berulang kali masukin nomor CC

4. Google Code Search
Produk ini memang hanya untuk kalangan terbatas, yaitu programmer. Google Code Search merupakan sebuah mekanisme yang cukup hebat untuk mencari berbagai sumber proyek-proyek open-source.

5. Google Book Search
Untuk mencari buku virtual yang bisa langsung dibaca. Jadi lebih murah daripada harus ke toko buku.

6. Google Page Creator
Google Page Creator, yaitu sebuah situs yang berisikan alat-alat standar untuk membuat sebuah situs. Jadi kalo anda newbie dan pengen bikin situs pakai produk ini.

7. Google Notebook
Catatan online untuk menyimpan halaman situs, kutipan, dan gambar pada bermacam-macam situs yang ingin kita simpan atau kopi ke dalam personal library

8. Google Froogle
Froogle merupakan google direktori untuk harga-harga. Froogle mempermudahkan kita untuk mencari informasi tentang suatu produk pada sistem penjualan online. Froogle bekerja dengan menggabungkan kekuatan search engine google dan memfokuskan pencarian terhadap suatu produk dan menghasilkan result berupa website dimana kita dapat memesan produk tersebut.

Product

Produk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dalam marketing, produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan.[1] Dalam tingkat pengecer, produk sering disebut sebagai merchandise. Dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk barang mentah dan dijual sebagai barang jadi. Produk yang berupa barang mentah seperti metal atau hasil pertanian sering pula disebut sebagai komoditas.
Kata produk berasal dari bahasa Inggris product yang berarti "sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya".[2] Bentuk kerja dari kata product, yaitu produce, merupakan serapan dari bahasa latin prōdūce(re), yang berarti (untuk) memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Pada tahun 1575, kata "produk" merujuk pada apapun yang diproduksi ("anything produced").[3] Namun sejak 1695, definisi kata product lebih merujuk pada sesuatu yang diproduksi ("thing or things produced"). Produk dalam pengertian ekonomi diperkenalkan pertama kali oleh ekonom-politisi Adam Smith.[4]
Dalam penggunaan yang lebih luas, produk dapat merujuk pada sebuah barang atau unit, sekelompok produk yang sama, sekelompok barang dan jasa, atau sebuah pengelompokan industri untuk barang dan jasa.